Budaya Desain

24 September 2016 Leave a comment Go to comments

We must always remember that the design studio is not the real world. Kalimat tersebut disampaikan oleh Wang (2015:11) memperkuat penyataan Cross (2001:49). Pernyataan ini ditujukan kepada para pendidik desain agar mengingat bahwa seberapapun strategi pembelajaran desain di dalam studio, dia selalu dalam ranah bukan pada dunia sebenarnya (profesional). Proses perancangan dalam studio tidak semata berorientasi pada seolah proyek, masih ada ceruk kreativitas dan imaginasi peserta didik yang harus tetap mendapat keleluasaan aktivitas dan ruang, alih-alih mengungkungnya dengan instruksi berbalut kompetensi.

Wang (2015) menyatakan bahwa dalam proses desain di dunia pendidikan hadir dalam dua dikotomi, yaitu to create dan to make. Keduanya memiliki definisi yang berbeda. Create lebih berafiliasi kepada ex-nihilo proses penciptaan dari ketiadaan, sedangkan make pada sisi pre-exist; proses pembuatan dari potensi ada sebelumnya. Proses desain sendiri lebih cenderung sebagai proses to make. Barangkali pegertian to make ini sejalan dengan pemahaman making dari Miyasaka (2013).

Bagi Cross (2001) desain adalah sebagai sebuah disiplin. Cross meniti tiga pemahaman desain sebelum sampai pada pernyataan tersebut, yaitu scientific design, design science, dan science of design. Selama ini beredar anggapan bahwa budaya ilmu pengetahuan dilatarbelakangi oleh dua pandangan saja, yaitu budaya seni dan budaya sains. Berdasarkan pemikiran CP Snow, Cross (1999) mengusulkan satu budaya lagi sebagai artikulasi dari kedua budaya tersebut, yaitu budaya desain (culture of design). Jika ketiganya disandingkan maka akan dihasilkan taksonomi seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

taksonomi-budaya-ilmu-pengetahuanSumber (ilmu) pengetahuan berasal dari tiga kategori, yaitu people, process dan product. Berdasarkan ketiga kategori ini, Cross (1999) membuat paradigma taksonomi khusus desain, yaitu epistmologi (telaah tentang dari bagaimana cara perancang mengetahui), praksiologi (telaah tentang dari praktek dan proses dalam desain), dan fenomenologi (telaah tentang bentuk dan konfigurasi artefak). Desain merupakan satu disiplin dan budaya sendiri.

Desain sebagai sebuah disiplin dan kebudayaan serta menjadi latar ilmu pengetahuan tentunya memiliki spektrum paradigmatik dalam basis filosofis dan epistimologis. Setidaknya terdapat enam basis filosofis dan epistimologis yang mendasari desain (proses desain), yaitu rasionalisme, empirisisme, strukturalisme, pragmatisisme, fenomenologi (Downing & Gribou, 1993: 45), dan intuisionisme (Numbers , 1993:74). Keenamnya memuat pandangan filosofis dan epistimologis yang berbeda.

Dari enam basis filosofis dan epistimologis tersebut, masing-masing terperinci menjadi delapan doktrin, yaitu knowledge, methods, procedure, truth, beauty, meaning, assumptions, dan design strategy. Doktrin tersebut menuntun desainer dengan cara-cara yang lebih rigid dan rigorous dalam proses desain seperti layaknya metode riset. Khusus pada design strategy, doktrin ini menyediakan tahapan mendesain yang ketat namun bisa diikuti. Berdasarkan basis filosofis dan epistimologi tersebut, para desainer memiliki alternatif cara dan pendekatan dalam merancang. Dengan basis ini dikotomi lebar antara desian arsitektur dengan penelitian dalam arsitektur dapat lebih dipersempit. Justifikasi bahwa para desainer hanya bersifat pragmatis dan intuitif tanpa upaya pengembangan pengetahuan baru akan semakin terkikis. Desainer (arsitek) dapat mendesain dengan kaidah-kaidah ilmiah tertentu.

| soes

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: