Home > Theory > Dimensi Antropologis dalam Arsitektur

Dimensi Antropologis dalam Arsitektur

Dimensi antropologis penelitian arsitektur saat ini mendeskripsikan arsitektur sebagai sebuah keberlanjutan yang konstruktif, sebagai sebuah jenis baru dari obyek budaya yang berjalan seiring (paralel) dengan seluruh evolusi kebudayaan manusia. Atas dasar ini, dimensi antropologis melebar menjadi dua hal yakni teori arsitektur dan habitat. Habitat diturunkan dari teori-makro telah memberikan (1) wawasan baru pada makna arsitektur, (2) juga pada budaya berhuni (culture of dwelling).

Di samping dua hal di atas antropologi arsitektur juga menawarkan penggabungan banyak teori-mikro yang konvensional dari kemanusiaan dengan kerangka-kerja yang lebih luas pada evolusi-konstruktif dan lingkungan organisasi ruang: manusia akan membangun dirinya sendiri dan gagasannnya di dunia. Oleh karena itu, antropologi arsitektur menarik bagi semua disiplin ilmu penelitian budaya.

Etnologi dalam bidang arsitektur berkembang selama masa krisis arsitektur modern di akhir tahun 1960-an. Di samping itu juga dipicu oleh teorinya Amos Rapoport  ‘Built Form and Culture’ (1969) yang membuka kemungkinan lahirnya teori baru. Rapoport membuka cakrawala pengetahuan ke dalam etnologi arsitektur.

Ketika arsitektur mulai beringsut mengakrabi ranah etnologi maka seolah menemui jalan buntu. Etnologi dalam arsitektur pada akhirnya menemukan jalan buntu terkait dengan metodologi karena akumulasi pengetahuan yang tidak terkoordinasi dari semua bidang. Masalah utama terletak pada kenyataan bahwa penelitian arsitektur belum mengembangkan metodennya sendiri. Sebagian besar penelitian memimjam konsep dan pendekatan dari disiplin lain, seperti religi, psikologi, sosial-antropologi, strukturalisme, semiotika, dan sebagainya. Dengan demikian tidak hanya memindahkan kesulitan teoritis yang muncul dari induk-induk disiplin ilmu tadi, tetapi juga menciptakan masalah baru dengan mengadaptasi pendekatan dari satu disiplin ke disiplin lainnya.

Dalam konteks ini satu bidang penelitian lainnnya mendapatkan konsentrasi dalam arsitektur sendiri, yaitu antropologi. Pada lingkar disiplin antropologi ini dijumpai adannya 4 jenis skema (Egenter, 1992), yaitu: ….

[ Tulisan lengkap Dimensi Antropologis dalam Arsitektur dapat diunduh pada box, my shared files kolom di sebelah kanan

By | soes

Categories: Theory Tags: ,
  1. arief
    13 November 2012 at 12:17 pm

    Kok tiba-tiba muncul di email saya nih postingan yang baru, perasaan nggak pernah klik yes utk ngikutin postingan

    anyway Selamat… udah in di tahap ter-lieur.
    karena begitu khusus bidang kajiannya, jadi saya yang sangat awam hanya bisa melihat dari kotak luar ttg yang disebut ‘jalan buntu’ dan ‘menciptakan masalah’
    kalau menurut saya sih, tinggal ditendang aja jalan buntu itu, entah pakai palu, godam atau apaan karena di balik jalan buntu itu mungkin jalannya sangat lebar dan seterang mentari hehehe…..
    tinggal cari palu dan godamnya
    sehingga nggak ada lah ‘menciptakan masalah’, tapi ketemu masalah baru sih pastinya iya, namanya juga tahapan invention, kalau nggak ada masalah ya nggak akan ada invention lah.
    Science kan terus berkembang. Dulu Pasteur menyimpulkan bahwa makhluk hidup berasal dari air kaldu yang ditempatkan di botol tertutup, karena muncul jasad renik setelahnya. Ilmu saat itu belum menguak bahwa jasad renik/mikroba ada yang aerob dan ada yang anaerob, bahwa air kaldu adalah makanan yang sangat kaya akan sumber zat nutrien untuk metabolisme 1 sel makhluk hidup sederhana yaitu bakteri. Akhirnya muncullah teori generatio spontanea. Ya karena memang jalannya baru sampai di situ.
    Alhasil, berjalannya ilmu pengetahuan, akhirnya terkuak pula mekanisme dan mode of action dari sistem metabolisme 1 sel jasad renik, bagaimana ATP sebagai sumber energi itu terjadi, dan siklus aerobik/anaerobik makhluk hidup pun terkuak, sehingga teori generatio spontanea pun musnah. Itu baru satu contoh perkembangan ilmu atau science.
    Itulah perkembangan, jadi science selalu terbatasi ruang lingkup waktu dan tempat, selalu normatif.
    Sehingga mungkin saja dalam perspektif arsitektur- teori etnologi masih dalam ranah ketidakjelasan. Semakin didalami semakin tidak jelas…, justru mungkin dari situlah akan tersambungkan semua benang merah ketidakjelasan menjadi simpul merah kejelasan.

    Maaf, komennya keluar konteks arsitektur, karena saya juga nggak paham arsitektur
    Selamat …..

    • 13 November 2012 at 12:42 pm

      @Arief: Kalau muncul di email, tandanya tidak bisa dirasakan, tetapi faktanya memang demikian… Tetapi apapun terima kasih atas komentarnya.

  2. andi sumar
    27 September 2016 at 2:17 pm

    Salam. Bisakah bahan2 antro arsiteknya dikiri ke email saya? Jika bisa, trims. andisumarkarman@gmail.com

    • 29 September 2016 at 4:20 am

      Bisa. File sudah dikirim ke email Anda. Silakan dicek. Senang berbagi. Salam.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: