Home > Vernacular Architecture > Aspek Gender pada Arsitektur Lumbung

Aspek Gender pada Arsitektur Lumbung

29 September 2011 Leave a comment Go to comments

Salah satu dasar terkuat kehidupan masyarakat Nusantara adalah agraris. Kehidupan komunitas masyarakat sangat terkait dengan konteks pertanian. Dalam pembudidayaan padi banyak peristiwa, nama rupa, bentuk, maupun legenda yang saling mengiringi. Salah satu diantaranya adalah lumbung sebagai bentuk fasilitas penyimpan padi dan mitos dewi padi. Diantaranya keduanya saling terhubung oleh aspek gender.

Pengantar ::

Nusantara memiliki kekayaan arsitektur vernakular yang beragam. Sebagai bangsa yang memilki budaya agraris, lumbung menjadi salah satu wujud artefak peradabannya. Lumbung berkategori sebagai agriculture vernacular architecture.  Setiap entitas etnis di Nusantara memiliki nama rupa dan bentuk lumbung yang beragam. Setiap etnis memiliki sistem simbol dan informasi yang beragam pula, sehingga secara kultural menjadi semakin kompleks. salah satu simbol yang dimiliki berbagai komunitas etnis di Nusantara adalah mitos, legenda, foklore tentang padi yang terkait dengan agrikultur. Dari beberapa mitos padi tersebut terkait dengan personifikasi perempuan, baik dalam sosok maupun peran sosialnya. Personifikasi ini pada gilirannya akan berpengaruh juga pada aktivitas dan bentuk fasilitas yang menampungnya. Dalam hal ini adalah lumbung.

Keterkaitan antara segresi gender dalam mitos dan lumbung sangat menarik dan membuka ruang penelitian dalam bidang arsitektur vernakular agrikultur. Dimensi gender dapat dijadikan sebagai salah satu topik penelitian dalam mengangkat dan mengungkap konseptualisasi arsitektur vernakular agrikultur. Pertanyaannya adalah, apakah ruang lingkup dan bagaimanakah bentuk kategori analisis gender yang digunakan dalam mengkonseptualisasi arsitektur vernakular agrikultur?

Bentuk Kategori Analisis Gender dalam Arsitektur Vernakular [Lumbung]

Menarik untuk dicermati keterkaitan antara mitos (foklore) Dewi Padi yang berafiliasi dengan perempuan dengan tempat atau fasilitas penyimpanannya (lumbung) yang dalam ritualnya juga mempertimbangkan peran perempuan. Bagaimana ruang-ruang dimaknai? Bagaimana ruang-ruang terbentuk? Bagaimana bentuk bangunan terwujud? Kondisi seperti ini sangat mungkin mengangkat aspek gender sebagai tema penelitian dalam bidang arsitektur vernakular.

Sementara ini beberapa penelitian bidang arsitektur vernakular lebih banyak masuk pada ranah arsitektur vernakular domestik (lihat penelitian Devakula, 1999; Asquith, 2006) . Penelitian arsitektur dalam bidang arsitektur vernakular agrikultur masih kurang. Ada dan banyaknya segresi dan peran gender dalam lumbung sebagai arsitektur vernakular agrikultur sebenarnya memberi potensi penelitian lebih lanjut. Ranah penelitian tidak saja masuk pada artefak dan spasialnya melainkan juga sistem setting lingkungan agrikulturnya.

Fakta bahwa penelitian bidang arsitektur vernakular masih kurang didukung oleh kenyataan bahwa penelitian yang langsung berfokus pada hubungan lumbung dan gender lebih banyak didominasi oleh bidang antropologi. Sato (1991) dalam penelitiannya bertajuk Dwell in the Granary: The Origin of the Pile-Dwellings in the Pacific memiliki subtopik segresi gender dalam salah satu penelitiannya. Sedangkan Fiedermutz-Laun (2005) melihat antropomorfik, yaitu bentuk simbol kesuburan pada lumbung dan perlengkapannya di Kasena Afrika Barat.

Penelitian dan pembahasan tentang gender dapat membuka pemahaman sejarah desain dan pengalaman lingkungan vernakular (Kwolek-Folland, 1995). Pendekatan gender dalam penelitian bisa dijadikan sebagai kategori analisis. Jika gender diangkat menjadi kategori analisis dalam memahami arsitektur vernakular, maka pendekatan gender ini dapat digunakan untuk mengkonseptualisasikan masalah penelitian. Sekarang ini banyak disepakati bahwa gender merupakan bentuk eksperensial dan kategori analisis sebagaimana pendekatan kelas atau ras.

Sebelum masuk area penelitian gender dan tatapikir yang berguna dalam mengkonseptualisasikan arsitektur vernakular, perlu didudukan pemahaman gender. Gender adalah seperangkat abstraksi yang berakar dalam bidang biologi dan dinyatakan dalam bentuk sosial, budaya, dan sejarah. Tidak seperti perbedaan jenis kelamin secara biologis, gender tercipta secara sosial yang senantiasa berubah sesuai dengan etnis, budaya, agama, perbedaan ekonomi, kebangsaan, ras, dan waktu. Gender adalah sistem gagasan yang saling terkait antara peran sosial laki-laki dan perempuan, swa-definisi, dan pengalaman budaya yang didasarkan pada proses sejarah[1].

Bila penelitian arsitektur vernakular menggunakan aspek gender sebagai kategori analisis, maka setidaknya ada empat wilayah lingkungan binaan yang bisa distudi. Empat area ini berguna dalam merekonseptualisasi arsitektur vernakular. Lumbung sebagai arsitektur vernakular agrikultur dapat ditelisik berdasarkan empat area dibawah ini[2].

  1. Penelitian yang mempelajari hubungan status dan posisi perempuan terkait dengan ruang-ruang yang biasa digunakannya.
  2. Penelitian yang memperhatikan gender pada tempat-tempat atau ruang publik di mana laki-laki dan perempuan memilki pendekatan dan tafsir dengan cara yang berbeda.
  3. Penelitian yang memperhatikan definisi batas-batas ruang yang dibangun berdasarkan sifat idiologis, simbolis, filosofis, spirit-supranatural atas peran laki-laki dan perempuan.
  4. Penelitian yang memperhatikan proses transmisi menghuni dan bentuk hunian terkait dengan cara budaya dan sejarah mengubah proses tersebut.

Selanjutnya, ketika penelitian masuk pada pengumpulan data primer, ada empat cara berpikir yang sangat berguna bagi penelitian dengan dimensi gender pada lumbung sebagai arsitektur vernakular agrikultur. Empat tatapikir di bawah ini[3] dapat dijadikan sebagai rujukan dan senarai periksa dalam menjelajahi aspek gender sebagai topik penenelitian.

  1. Gender sebagai kategori struktural, meliputi pengertian dasar kemanusiaan, kewanitaan, dan/atau pembagian gender lainnya dalam sistem sosial, ekonomi, dan ideologis.
  2. Gender sebagai kategori kronologikal, sistem gender adalah subjek kesejarahan yang senantiasa berubah secara konstan dan mungkin bisa saja gender merangsang dirinya untuk selalu berubah.
  3. Gender sebagai kategori fragmentasi, setiap gender yang dominan akan melibatkan orang yang berbeda dalam cara yang berbeda dan akan membuat beberapa lapisan pengalaman.
  4. Gender sebagai kategori pengalaman, baik individu atau kelompok mengalami gender dalam berbagai cara yang berbeda dan dalam beragam bentuk dan aktivitas di berbagai kapasitas. Gender secara simultan adalah privat, intim, berkategori personal dan publik, komunal, swa -kspresi sosial. Gender dapat menghubungkan individu kepada masyarakat dalam bentuk personal.

Empat tatapikir ini bisa dikolaborasi dengan metode field research di mana peneliti lapangan adalah orang pragmatis metodologis. Peneliti melihat setiap metode penelitian sebagai suatu sistem strategi dan operasi yang dirancang-setiap saat untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tertentu tentang peristiwa yang menarik baginya. (Schatzman dan Strauss, 1973, hal 7 dalam Burgess, 1984 hal. 5)

| soes


[1] Disarikan dari Suzanne Kesseler and Wendy McKenna, Gender An Ethnomethodological Approach (New York: John Wiley, 1978) dan Sherry B. Ortner and Harriet Whitehead, Sexual Meanings: The Cultural Construction of Gender and Sexuality (New York: Cambridge University Press, 1981) oleh Kwolek-Folland (1995).

[2] Diasimilasi dari Kwolek-Folland, 1995.

[3] Diadaptasi dari Kwolek-Folland, 1995.

  1. juwariyah
    17 February 2012 at 3:14 pm

    salam kenal mas sus.., sy juwariyah (jujuk), alumni sman 1 demak, angkatan 1999, yang sedang penelitian tesis PAI tentang ROHIS di SMAN1 Demak. sejarah berdirinya rohis blm terdokumentasi, wktu sy wawancara sama ibu suci, beliau hanya ingat nama panjenengan sebagai inspirator lahirnya rohis. oleh krn itu sy sangat mohon krja sama panjenengan tuk berbagi pengalaman apa yg menginspirasi lahirnya rohis di sman1 tercinta. jika tidak keberatan, sy berharap mas sus bs membalas di email sy (jujukmahsun@yahoo.co.id). trimakash sebelumnya. by. jujuk/ 085225142270. semoga bermanfaat.

    • 8 October 2013 at 4:30 pm

      Salam kenal. Maaf baru balas. Tetapi dulu lalu kita sudah kontak via japri. Semoga membantu dan segera (atau barangkali sudah lulus) tesisnya.

  2. achmad
    27 May 2016 at 12:33 pm

    selamat siang pak susilo, saya mahasiswa s1 unisba jurusan planologi sedang menyelesaikan tugas akhir yang mana berkaitan dengan lokasi studi yang sama yaitu kasepuhan ciptagelar. saya memohon ijin untuk meminta data sebagai refensi dari tugas akhir saya pak. beberapa hasil karya tulis bapak yang sangat ingin baca. sebagai berikut.
    1. Peran dan Pengaruh Kultur Padi pada Pola Ruang-Tempat Hunian Masyarakat Ciptagelar
    2. Membaca Tilu Sapamulu melalui Jejak Spasial Karuhun Ciptagelar
    3. Membaca Ngalalakon pada Komunitas Adat Ciptagelar sebagai Masyarakat Peladang
    saya ucapkan banyak terimakasih jika bapak memberikan ijin untuk membagikan hasil karya tulis bapak kepada saya. Tks Sampurasun

    • 7 September 2016 at 6:19 am

      OK. Sudah dikirim via japri.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: