Home > Green, Preservation, & Sustainability, Urban, Planning, & Housing > Ancaman Laten Ketidakberlanjutan Kota

Ancaman Laten Ketidakberlanjutan Kota

Kota adalah rumah bagi penduduknya. Fungsi utama kota adalah sebagai human settlement. Hakikat kota adalah sebagai human habitat. Dengan tingkat pertumbuhan urbanisasi yang melebihi tingkat pertumbuhan penduduk nasionalnya, kota-kota di Indonesia akan menghadapai tuntutan dan beban yang berat. Bertambahnya jumlah warga kota akan meningkatkan asupan konsumsi disemua sisi yang berdampak pada produksi limbah buangannya. Di samping itu, kota juga menghadapi tantangan global berupa perubahan iklim yang ekstrim. Permasalahan kota akan semakin pelik dan rumit. Kota perlu pengendalian dan pengelolaan yang cermat. Tidak ada model yang bisa digeneralisir atau diklaim sebagai metoda pengelolaan kota yang tepat. Setidaknya, sustainableecocity menjadi tujuan yang nyata saat ini. Langkah pertama yang akan ditempuh untuk memulai tujuan itu adalah menyadarkan warga kota akan bahaya yang akan dihadapi kotanya. Termasuk masalah mendasar yaitu efek laten perilaku negatif warga kota yang berpeluang menjadikan kota tidak berlanjut.

Semangat sustainable development

Sejak berhimpitnya perspektif cara pandang aliran kanan dan kiri dalam muara sustainable development pada tahun 1992, muncullah wacana biocentris versus antroposentris dan economic frontier. Aliran kanan mempunyai paradigma bangkitnya kesadaran akan keterbatasan sumber daya (alam; kapital; manusia; dsb) dan konsep konservasi bagi negara maju. Aliran kanan ini memang lebih berafiliasi pada negara-negara maju. Aliran kiri memfokuskan pada agenda peningkatan kualitas hidup warga negaranya dan konsep pembangunan untuk negara berkembang.

Tujuan pembangunan berkelanjutan adalah upaya memadukan tujuan-tujuan sosial [-budaya], ekonomi, dan ekologi. Kerangka pikir pembangunan berkelanjutan adalah untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa harus menghalangi pemenuhan kebutuhan generasi masa datang. Sebuah konsep keadilan antargenerasi.

Namun demikian perlu dikritisi bahwa kepentingan pembangunan antara negara maju dan negara berkembang berangkat dari dua hal yang berbeda. Negara maju berangkat dari nilai-nilai konservasi di mana mereka telah menuai hasil melalui sumber daya alamnya dan selanjutnya perlu dilestarikan untuk kelangsungan hidupnya. Sedangkan negara berkembang berangkat dari upaya peningkatan kualitas hidup yang belum tercapai melalui eksploaitasi sumber daya alamnya tetapi secara bersamaan harus dijaga kelestariannya. Dua kondisi yang bisa sangat timpang dalam operasionalnya.

Kerangka pikir pembangunan berkelanjutan muncul atas keprihatinan terhadap merosotnya daya dukung bumi terhadap kehidupan di atasnya. Degradasi ini muncul akibat adanya ledakan jumlah penduduk, meningkatnya aktivitas manusia, intensitas eksploitasi sumber daya alam yang tinggi yang disertai dengan limbahnya. Dalam kondisi seperti ini maka perlu ditata pertumbuhan penduduk, diubah pola konsumsi dan produksinya.

Pembangunan berkelajutan sebaiknya dijadikan sebagai paradigma pembangunan [di daerah]. Pembangunan berkelanjutan daerah dalam wilayah administratif kota atau kabupaten. Dalam wilayah administratif daerah di Indonesia dikenal kota dan kabupaten. Salah satu perbedaan antara kota dan kabupaten terletak pada pangaturan dan pengelolaan. Kota adalah satuan administrasi yang mengatur lebih banyak masyarakat urban daripada pedesaan. Sedangkan kabupaten adalah sebaliknya. Secara lebih detail setiap kota yang satu akan berbeda dengan kota yang lainnya. Begitu pula kabupaten. Masalahnya demikian kompleks. Namun satu hal, dengan paradigma pembangunan berkelanjutan, kota atau kabupaten harus terbuka untuk sebuah perubahan dalam pembangunannya.

Masalah perkotaan

A local citizen said to me:

You’ll lower the price of property

Move a long, get a long, more a long, get a long

Go, more, shift

[Christy Moore]

Dalam liputannya, National Geographic menyebutkan bahwa permasalahan milenium perkotaan adalah kemiskinan, penyakit, dan diskriminasi. Hampir satu dari enam manusia terdesak ke pinggiran di lingkungan kumuh yang tidak layak huni. Mereka rentan terhadap polusi, kejahatan, dan pengusiran massal. Lingkungan kumuh menjadi bagian kehidupan kota di seluruh dunia.

Dari sudut pandang yang lain, masalah perkotaan adalah kemiskinan, kejahatan, dan pendidikan yang rendah (O’Sullivan., 2003: 15) yang ketiganya akan berpengaruh kepada kurangnya penyediaan perumahan kota. Kota memang merupakan human habitat di mana mereka akan tinggal.

Di dalam kurangnya penyediaan perumahan, terdapat beberapa kecenderungan. Salah satu alasan bagi terjadinya konsentrasi spasial dari masalah perkotaan adalah bahwa pemilik rumah cenderung membentuk lingkungan sekitarnya berdasarkan kesetaraan pendapatan, pendidikan, dan ras.

Tipikal rumah seperti ini tidak mempunyai peleburan perbedaan yang baik seperti dari latar belakang sosio-ekonomik, tetapi cenderung homogen. Kehomogenan ini memiliki dua implikasi bagi masalah perkotaan; (1) pendapatan yang rendah akan menyebabkan berbagai kejahatan dan kekurangcukupannya permukiman, (2). konsentrasi perumahan dengan tingkat pendapatan yang rendah akan membuat kemiskinan dan beberapa masalah perkotaan semakin parah (O’Sullivan., 2003: 323).

(continue reading :: [please send me request & leave your active email])

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: