Home > Green, Preservation, & Sustainability > Setengah-[m]Hati Pelestarian Kota Malang

Setengah-[m]Hati Pelestarian Kota Malang

Ada pendapat kritis tentang konsevasi, bahwa pada mulanya konservasi dimaksudkan untuk melanggengkan kekuasaan para borjuis (elitis)!

Se­jarah panjang preservasi ataupun konservasi [arsitek­tur] telah menempuh perjalanan selama kurun waktu hampir 300 tahunan. Dimulai dari tahun 1700-an dengan pelopor kaum elitis sampai pada era sekarang tahun 2000-an dengan peruba­han paradigma yang lebih menekankan pada ranah sustainable development. Diawal kesejarahan konservasi, para elitis berusaha melestarikan tempat-tempat tinggalnya seperti kastil, puri dan sebagainya dari kehancuran fisik (Kalau tidak mau disebut se­bagai usaha pelanggengan kekuasaan) oleh para Baron, borjuis, dan sejenisnya dari para kaum marginal. Hal ini pernah diungkapkan oleh Marx dan Engels (1864) dengan adanya the Ruling Class.

Pada akhir tahun 1700-an dan permulaan tahun 1800-an ditengah era kebangkitan arsitektur Barroque, Roccoco sampai dengan Empire Style konservasi [arsitektur] lebih dite­kankan pada gagasan bangunan dan lansekap. Selanjutnya Pada rentang era 1800 sam­pai 1900 merupakan suatu periode konservasi [arsitektur] yang memperhatikan identi­fikasi, pendataan, dan usaha preservasi bagi bangunan lama yang monumental. Hal ini lebih diperkuat lagi dengan munculnya Society for the Protection of Ancient Monument, SPAB tahun 1877. Usaha-usaha dalam bidang ini semakin digencarkan dan berusaha untuk dilegitimasikan, sehingga muncullah Piagam Athena, tahun 1934. Pada tahun 1945 ke bawah akibat Perang Dunia I dan II penggiatan usaha konservasi [arsitektur] terus dilakukan melalui rebuilding Eropa. Perkembangan se­lanjutnya pada tahun 1975 keluar Deklarasi Amsterdam, dan the Burra Charter, 1981. Sampai pada akhirnya muncul perubahan paradigma baru berupa kesadaran akan kesi­nambungan pembangunan (sustainable development) yang berkaitan dengan usaha-usaha konservasi.

Pembangunan berkelanjutan ini sendiri sebenarnya merupakan kanal dari pertemuan dua model pengembangan pem­bangunan antara negara maju/industri/Barat dengan negara berkem­bang/agraris/Timur. Model pertama konsep konservasi untuk negara maju yang berangkat dari bangkitnya kesadaran akan keter­batasan alam. Model ini didasarkan atas akibat dari eksploatasi berlebihan yang mereka lakukan juga, menuju ke konsep pembangunan konservasi atas nilai-nilai keterbatasan alam. Model kedua konsep pembangunan untuk negara berkembang yang berangkat dari upaya untuk meningkatkan kualitas hidup. Suatu model yang sungguh-sungguh berusaha meningkatkan kualitas hidup atas kemiskinan dan ketidakberdayaannya, untuk selanjutnya menuju ke konsep pembangunan bagi negara berkembang. Suatu konsep yang sudah barang tentu berbeda jauh dari karakteristik model pembangunan negara maju. Bisa jadi model kedua ini muncul sebagai imbas eksploatasi yang dilakukan oleh negara yang tergolong dalam model pertama.

Karena hubungan antarnegara berada pada komunitas yang saling berkaitan, maka dicobalah menemukan muara dari permodelan tersebut guna menemukan arah kebijakan pembangunan yang berimbang. Keterkaitan itu akhirnya bermuara pada sustainable development. Hadirnya semangat sustainable development (1992) membawa wacana biocentris vs antroposentris juga economic frontier. Adanya pembangunan berkelanjutan membawa harapan tercapainya suatu equilibrium pembangunan.

Sejalan dengan hal tersebut, globalisasi terus menggerus dan membawa dampak meng-kota-nya dunia dan perubahan-perubahan paradigma pembangunan. Daerah atau kota menjadi ujung tombak pembangunan dan agen perubahan ini. Kota bisa menjadi sangat sensitif dan rentan terhadap perubahan-perubahan tersebut. Sejak awal 1990-an para ahli perencana kota menyadari bahwa telah terjadi perubahan mendasar tentang hakikat perkembangan kota sebagai akibat kompleksitas yang meningkat dan kecepatan perubahan yang tinggi. Mereka menawarkan melakukan perubahan pendekatan dari paradigm planning menjadi paradigm management, dari land-use planning menjadi land management, dari traffic planning menjadi traffic management. Sehingga secara keseluruhan dari urban planning menjadi urban management (Stadtbauwelt, 1992 dalam Santoso, 2006).

Saat ini kota-kota di Indonesia sedang berlangsung suatu proses transformasi budaya suatu tata cara hidup dari suatu kondisi ke kondisi lain. Kota merupakan tempat di mana fenomena transformasi itu berlangsung. Kota harus akomodatif, karena transformasi bersifat simultan. Inti perubahan adalah bahwa acuan pengembangan kota tidak lagi menjadi suatu kondisi ideal, tetapi pembinaan terus-menerus dalam pembinaan kota. Pada akhirnya perubahan ini mengkerucut pada Sustainable Urban-Development Concept.

(continue reading :: Setengah-[m]Hati Pelestarian Kota Malang)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: