Home > Urban, Planning, & Housing > Meletakkan Kompas Perencanaan Mendekati Sumbunya

Meletakkan Kompas Perencanaan Mendekati Sumbunya

berhubungan tanpa berserikat//berbenturan tanpa melenyapkan//berkelompok tanpa melarutkan

Sebenarnya, apakah konstruksi masyarakat madani di Indonesia ini sudah duduk atau belum? Hal ini menjadi pertanyaan mendasar yang harus dicarikan kesepakatan jawabannya dalam melandasai perencanaan kota yang madani. Jika kemerdekaan masyarakat masih terbelenggu dan kemandiriannya masih juga sebagai utopia belaka maka konstruksi masyarakat madani jauh panggang dari api.

Selama ini yang sering dirasakan oleh masyarakat, suatu perencanaan kota hanyalah sebuah rencana yang bergerak pada kerangka teoritik. Rencana tinggal rencana yang berserak sebagai kertas-kertas makalah semata. Andaipun perencanaan kota dipaksakan dengan mengatasnamakan policy maka pada tingkat implementasi kebijakan tersebut tidak mudah diaplikasikan. Akhirnya perencanaan hanya berupa alat pembenaran bukan kebenaran yang bersumber dari masyarakat itu sendiri.

Kondisi di atas merupakan potret nyata dari keberadaan perencanaan dan pembangunan kota. Di satu pihak pemegang kuasa perencanaan bergerak ke arah lain. Sedangkan, masyarakat dengan caranya sendiri ‘berpartisipasi’ membangun kotanya bergerak ke sisi yang lainnya lagi. Sehingga, dengan kondisi seperti ini maka akan menimbulkan masalah berupa deviasi antara tingkat partisipasi aplikatif masyarakat kota sebagai perwujudan pembangunan dan perencanaan kota ditingkat representasi dengan perencanaan kota yang hanya berkutat di dunia verbal. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kebijakan dan rencana kota dalam sistem pengendalian, pengembangan dan pembangunan kota tersusun atas proses interaksi antara masukan kondisi alam, masukan dasar, masukan instrumental, proses urbanisasi, dan keluaran kota. Peran masyarakat berada pada masukan instrumental berupa instrumen pengendali yang berpartisipasi secara politik, sosial, dan komunitas. Peran masyarakat ini harus diakomodasi dan mendapat perhatian utama dalam perencanaan kota yang madaniah. Sasaran dari pengakomodasian dan perhatian ini adalah meminimalisasikan dampak dan perkembangan diluar kebijakan dan rencana yang pasti dan sering terjadi.

Oleh karena itu sudah saatnya perencanaan kota Indonesia menjejakkan kakinya ke bumi yang selama ini masih melayang bergantungan untuk mencari formulasi aplikatif yang jitu bagi peran serta masyarakat. Perencanaan kota tidak hanya sekadar bisa diproyekkan dalam menara gading, tetapi juga diproyeksikan kepada kehidupan masyarakat nyata akar rumput. Sehingga, orientasi perencanaan kota yang madani [civil society] dapat terarah, dan tidak sekedar menjadi masyarakat yang madani [memperolok]

(continue reading :: Meletakkan Kompas Perencanaan Mendekati Sumbunya)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: