Home > Green, Preservation, & Sustainability > KOTAGEDE DALAM KE[tidak?]BERLANJUTAN: Sari Lain Telaah Konservasi dari Peradaban dan Kebudayaan

KOTAGEDE DALAM KE[tidak?]BERLANJUTAN: Sari Lain Telaah Konservasi dari Peradaban dan Kebudayaan

Kotagede merupakan perwujudan langkah ke­budayaan dan peradaban yang masih terting­gal dan dapat dinikmati dalam kontem­porerisasi masa kini. Sebagai suatu warisan sudah me­rupakan kelaziman bagi pewaris anak zaman untuk tetap mempertahankan sari pati nilai-nilai lestarinya. Lestari dalam keberlanjutan dan keberkembangan. Apakah usaha-usaha pelestarian [arsitektur] selalu memperhatikan struktur fisik semata? Ternyata Kotagede menyimpan kekuatan metafisik kebudayaan yang dasyat yang dapat dijadikan pijakan bagi usaha pelestarian kedepan.

Atas nasihat Ki Juru Martani, di hadapan Raja Pajang sultan Hadiwijaya, Ki Gede Pemanahan dan Ki Panjawi mengatasna­makan diri mereka sebagai pembunuh Aria Penangsang, 1558, karena Raden Ngabehi Sutawijaya sebagai pembunuh yang sebenarnya dipandang terlalu muda dan im­balan jasa yang akan diterimanya tentu kecil. Hadiah Raja Pajang kepada Ki Pan­jawi berupa tanah Pati yang berpen­duduk 10.000 jiwa__Babad Tanah Djawi, jauh le­bih besar daripada tanah Mataram bekas Hutan Mentaok yang gersang berpen­duduk 800 jiwa__serat Kandha, yang ter­tunda-tunda untuk dihadiahkan kepada Ki Gede Pemanahan. Menurut Babad Tanah Djawi (De Graff, 1985:44) tertundanya penyerahan hadiah ini karena Raja Pajang ragu-ragu sebagai akibat ramalan Sunan Giri yang menyebutkan bahwa kelak di Mataram akan timbul seorang raja yang sama besarnya dengan Raja Pajang…(di edit dari Totok Roesmanto)

Artefak adalah salah satu unsur penyusun kebudayaan namun ba­gaimana artefak itu tersusun merupakan suatu pertanyaan dasar yang mengawali langkah menuju penelusuran nilai-nilai substansialnya terha­dap tindakan pelestarian. Bagaimana men­citrakan runu­tan dan benang emas pada pokok perma­salahan? Jawabannya bermuara kepada alternasi cara dari berbagai usaha yang pernah dilakukan dalam tindakan kon­ser­vasi, paling tidak sebagai wacana.

Kerangka dasar perwujudan artefak Ko­tagede dari morfologinya menjadi pijakan pertama dalam penelusuran jejak nilai un­tuk sampai kepada sasaran utama. Terda­pat empat  elemen utama pembentuk struktur urban Kotagede, mesjid sebagai transformasi nDalem pendiri Kotagede, pasar, alun-alun, dan Keraton Kotagede (ke sela­tan lagi terdapat Kraton Plered). Kerangka awal kesejarahan pola struktur urban Kotagede dimulai dari nDalem__atau bisa jadi bukan datang darinya karena dulunya Hutan Mentaok sudah ada penghuninya. Struktur kemudian berkembang melingkupi nDalem dan tersusunlah seperti sekarang dengan pembentuk struktur utamanya adalah jalan ru­kunan yang sarat akan konsepsi budaya Timur, umumnya dan Jawa, khususnya.

(continue reading :: Kotagede dalam ke[tidak?]berlanjutan…)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: