[!] for Architects;

Ada lelucon nyinyir yang menyatakan bahwa kesalahan dokter langsung dikubur, sementara kesalahan arsitek akan selalu dipamerkan; kesalahan diagnosa dan pemberian obat berakibat satu orang mati; kesalahan membangun dan mendirikan bangunan menjadikan ratusan orang tewas!

Dalam gerak langkahnya, manusia menorehkan sejarahnya. Dalam perbuatannya manusia menghasilkan peradabannya. Hasil peradaban manusia bernama arsitektur selalu mewarnai rentang kesejarahannya baik berupa puncak-puncak peradaban ataupun kekelamannya. Dulu dikenal zaman Renaissance, sekarang masuk era pemanasan global.

Pemanasan global sebenarnya merupakan penyebab peristiwa perubahan iklim. Perubahan iklim pada dasarnya merupakan peristiwa alam yang alami. Perubahan iklim yang ekstrem terjadi akibat emisi yang dihasilkan dari kegiatan manusia berlebihan. Emisi ini menyebabkan konsentasi Gas Rumah Kaca (GRK)/greenhouse gases di atmosfer menjadi meningkat. Kondisi seperti ini membawa dampak suhu bumi meningkat tidak wajar secara global. Sehingga terjadi pemanasan global (global warming).

Citra yang terpapar di depan ketika memasuki era pemanasan global adalah bayangan bencana ekologis, seperti banjir, tanah longsor, gagal tanam, gagal panen, dan epidemi penyakit. Bencana ekologis membawa efek kemiskinan yang rangkainnya mengancam kepada generasi muda – anak-anak penerus bangsa. Suatu kondisi akibat dampak pertumbuhan penduduk, pola konsumsi dan produksi yang tidak terkendalikan.

Sebelum diskursus pemanasan global semakin menghangat, sekitar tahun 1960-1970 telah muncul analisis berkaitan dengan kondisi dunia apabila pertumbuhan penduduk, pola konsumsi dan produksi masih seperti apa yang telah terjadi dan dilakukan manusia saat itu. Dunia akan menghadapi masa kesuraman dan bumi mengalami kemerosotan kemampuan dalam menyangga kehidupan di atasnya. Beberapa buku yang berpengaruh dan memberi gambaran akan hal tersebut antara lain (di AS) seperti Silent Spring (Rachel Carson, 1962); Berakhirnya Masa Kelimpahmewahan (Paul dan Anne H. Ehrlich, 1974); dan Batas Pertumbuhan (Meadow, 1989). Dan lahirlah hari Bumi!

Bertitik tolak dari sini kemudian muncul wacana perbaikan dan usaha preventif menghasilkan beberapa gerakan-gerakan global, seperti pertemuan World Commission on Environment Development (WCED) 3-17 Juni 1992 yang dihadiri oleh 180 negara dunia termasuk Indonesia, menghasilkan paradigma sustainable development. Kerangka pikir pembangunan berkelanjutan muncul atas keprihatinan terhadap merosotnya daya dukung bumi terhadap kehidupan di atasnya. Degradasi ini muncul akibat adanya ledakan jumlah penduduk, meningkatnya aktivitas manusia, intensitas eksploitasi sumber daya alam yang tinggi yang disertai dengan limbahnya. Dalam kondisi seperti ini maka perlu ditata pertumbuhan penduduk, diubah pola konsumsi dan produksinya. Pada intinya Kerangka pikir pembangunan berkelanjutan adalah untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa harus menghalangi pemenuhan kebutuhan generasi masa datang. Sebuah konsep keadilan antargenerasi.

[more :: [!] for Architects;]

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: