Budaya Desain

24 September 2016 Leave a comment

We must always remember that the design studio is not the real world. Kalimat tersebut disampaikan oleh Wang (2015:11) memperkuat penyataan Cross (2001:49). Pernyataan ini ditujukan kepada para pendidik desain agar mengingat bahwa seberapapun strategi pembelajaran desain di dalam studio, dia selalu dalam ranah bukan pada dunia sebenarnya (profesional). Proses perancangan dalam studio tidak semata berorientasi pada seolah proyek, masih ada ceruk kreativitas dan imaginasi peserta didik yang harus tetap mendapat keleluasaan aktivitas dan ruang, alih-alih mengungkungnya dengan instruksi berbalut kompetensi.

Wang (2015) menyatakan bahwa dalam proses desain di dunia pendidikan hadir dalam dua dikotomi, yaitu to create dan to make. Keduanya memiliki definisi yang berbeda. Create lebih berafiliasi kepada ex-nihilo proses penciptaan dari ketiadaan, sedangkan make pada sisi pre-exist; proses pembuatan dari potensi ada sebelumnya. Proses desain sendiri lebih cenderung sebagai proses to make. Barangkali pegertian to make ini sejalan dengan pemahaman making dari Miyasaka (2013).

Bagi Cross (2001) desain adalah sebagai sebuah disiplin. Cross meniti tiga pemahaman desain sebelum sampai pada pernyataan tersebut, yaitu scientific design, design science, dan science of design. Selama ini beredar anggapan bahwa budaya ilmu pengetahuan dilatarbelakangi oleh dua pandangan saja, yaitu budaya seni dan budaya sains. Berdasarkan pemikiran CP Snow, Cross (1999) mengusulkan satu budaya lagi sebagai artikulasi dari kedua budaya tersebut, yaitu budaya desain (culture of design). Jika ketiganya disandingkan maka akan dihasilkan taksonomi seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

taksonomi-budaya-ilmu-pengetahuanSumber (ilmu) pengetahuan berasal dari tiga kategori, yaitu people, process dan product. Berdasarkan ketiga kategori ini, Cross (1999) membuat paradigma taksonomi khusus desain, yaitu epistmologi (telaah tentang dari bagaimana cara perancang mengetahui), praksiologi (telaah tentang dari praktek dan proses dalam desain), dan fenomenologi (telaah tentang bentuk dan konfigurasi artefak). Desain merupakan satu disiplin dan budaya sendiri.

Desain sebagai sebuah disiplin dan kebudayaan serta menjadi latar ilmu pengetahuan tentunya memiliki spektrum paradigmatik dalam basis filosofis dan epistimologis. Setidaknya terdapat enam basis filosofis dan epistimologis yang mendasari desain (proses desain), yaitu rasionalisme, empirisisme, strukturalisme, pragmatisisme, fenomenologi (Downing & Gribou, 1993: 45), dan intuisionisme (Numbers , 1993:74). Keenamnya memuat pandangan filosofis dan epistimologis yang berbeda.

Dari enam basis filosofis dan epistimologis tersebut, masing-masing terperinci menjadi delapan doktrin, yaitu knowledge, methods, procedure, truth, beauty, meaning, assumptions, dan design strategy. Doktrin tersebut menuntun desainer dengan cara-cara yang lebih rigid dan rigorous dalam proses desain seperti layaknya metode riset. Khusus pada design strategy, doktrin ini menyediakan tahapan mendesain yang ketat namun bisa diikuti. Berdasarkan basis filosofis dan epistimologi tersebut, para desainer memiliki alternatif cara dan pendekatan dalam merancang. Dengan basis ini dikotomi lebar antara desian arsitektur dengan penelitian dalam arsitektur dapat lebih dipersempit. Justifikasi bahwa para desainer hanya bersifat pragmatis dan intuitif tanpa upaya pengembangan pengetahuan baru akan semakin terkikis. Desainer (arsitek) dapat mendesain dengan kaidah-kaidah ilmiah tertentu.

| soes

Preseden Historis dan Doktrin Strategi Desain Rasionalisme untuk Konservasi

22 September 2016 Leave a comment

Bagaimana bertindak, memahami, dan memaknai tentang berbagai macam benda cagar budaya yang pelik telah tertuang dalam beragam dokumen asing maupun lokal, seperti Burra Charter (1979 dan terus diperbaiki), Nara Document on Authenticity (1994), juga Undang-Undang RI No 11 tahun 2010. Namun bagi sebagian masyarakat primordial Nusantara, mereka memahaminya dalam bentuk yang lebih lugas, (1) bentuk (sosok) lama dalam wadah (konteks) yang juga lama, (2) sosok lama dalam konteks yang baru, (3) spirit lama dalam konteks yang lama, ataupun (4) spirit lama dalam konteks yang baru. Kata kuncinya adalah subyek pusaka hadir sebagai sosok (entity) dan spirit (intrinsic value) dalam wadah atau konteks lama atau baru. Pemikiran ini demikian dinamis, tidak terlalu kaku menempatkan benda pusaka dalam konstelasi yang selalu tua dan lusuh tanpa boleh ada tindakan apapun ibarat benda pajangan dietalase kaca yang hanya bisa dilihat saja.

Precedent adalah satu strategi meruwat sekaligus merawat dalam menghadirkan entitas baru namun dengan nilai intrinsik yang lama. Preseden arsitektur fokus pada cara berpikir yang menekankan apa yang pada dasarnya sama, bukan yang berbeda. Preseden bukan repitisi atau membangkitkan gaya lama baik sebagian atau keseluruhan. Preseden mengidentifikasi pola dan tema sebelumnya yang berpeluang membantu bentuk arsitektur pada generasi selanjutnya. Preseden dalam desain meninjau keberadaan desain masa lalu guna memberikan prinsip-prinsip solutif sebagai dasar penalaran dalam situasi desain saat ini. Kata kunci preseden adalah teknik transformasi, yaitu aktivitas mengkodekan/pengindeksan unsur-unsur yang digunakan oleh bangunan referensi, kemudian mengubah kodefikasi tersebut sedemikian rupa dengan masih tetap mempertahanan referensi aslinya untuk menghasilkan makna baru. (Harms, 1982; Oxman, 1996; Clark & Pause, 2005).

Dalam koridor filosofis dan epistimologis desain, preseden bisa termasuk dalam ranah rasionalisme (Downing & Gribou, 1993). Basis filosofi dan epistimologi rasionalisme didukung dengan delapan doktrin, yaitu knowledge, methods, procedure, truth, beauty, meaning, assumptions, dan design strategy. (1) Knowledge bersifat logis. Pengetahuan diwujudkan dalam wujud preseden. (2) Metode rasionalisme merupakan pembenaran dari argumentasi yang masuk akal melalui perbandingan terhadap preseden yang logis. (3) Prosedur yang dijalankan adalah membangun konsensus melalui negosiasi. Proses ini merupakan hasil atas dasar implikasi dari kebenaran yang terbukti dengan sendirinya. (4) Kebenaran (truth) diperoleh dari upaya penarikan kesimpulan secara deduktif yang telah melewati serangkaian ujicoba dan sesuai dengan premis-premis yang bisa diterima. (5) Keindahan (beauty) bersifat absolut yang dilahirkan dari bentuk. (6) Makna (meaning) bersifat permanen dan tidak dapat diubah. (7) Asumsi-asumsi yang dibangun adalah kita hidup di dunia statik yang absolut. Pengalaman kita dapat berulang kembali. (8) Strategi desain yang digunakan, yaitu membangun sistem dan mengorganisasikan penyelesaian masalah (problem solving). Strategi desain ini merujuk pada langkah-langkah operasional dalam desian arsitektural.

Konservasi tidak melulu hadir melalui sosok wujud lama, tetapi bisa juga hadir dalam sosok baru yang merepresentasikan semangat intrinsic value dan signifikansi budaya masa lampau. Prosedur preseden historis masih layak menjadi arahan dalam riset konservasi. Sementara doktrin strategi desain rasionalisme dapat dijadikan sebagai alternatif rujukan dalam proses desain (studio) arsitektur.

| soes

Pa(ng)daringan, A Spatial Constant of Rice Culture in Kasepuhan Ciptagelar

7 September 2016 Leave a comment

Rice cultivation in Ciptagelar, one of Sundanese community not oriented to the production and marketing or more commonly known as the upstream-downstream mechanisms, planting-picking, and processing-selling. Far from it Kasepuhan Adat Banten Kidul society just does not sell their crops. Ciptagelar agricultural practice still ritualistic and sacred. Every time they held a farming process is always accompanied by cultural rituals. For the people of Ciptagelar community, the agricultural not livelihood but life.

Ciptagelar community characteristics, among others, are egalitarian, community-oriented, relatively peaceful, manners, also subsistence-oriented. This picture is a description of a traditional village as shown by Rigg (1994). Characteristics of subsistence communities themselves can generally be characterized by several things (Seavoy, 1977: 15-30), including the village-centricity, utilization of hand labor, limited food surplus, high birth rate, lack of a well-developed transportation network, commerce in the hands of outsiders, traditional law, allocation of communal land use, and minimum expenditure of labor.

In addition, the Ciptagelar community also has a rice culture that strong and still survive until now. A tradition that has been animating and affects all aspects of community life. All the rules of world view (values) addressed to the rice and the rules of the attitude (of conduct) can not be separated from the rice culture rites as its center. Hamilton (2003: 25-31) suggests that at least in detail there are twenty characteristics of rice culture society. But in general, the rice culture society is a community that has confidence that the rice has the spirit and the soul which can be compared with the human being both of the life cycle as well as parts of his body.

In the paradigmatic of emic perspective, community considers that the rice culture is the process of maintaining the cosmic harmony. While in the realm of praxis, one of the crystallization on rice culture was manifested in a system of spatial and place as the appreciation of the existence of rice. The spatial-place system is found both naturally and artificially from agriculture landscape to domestic vernacular architecture (the place of the rice-spirit).

Domestic vernacular architecture focused on the residents dwelling units (houses). Around the the domestic area raises some question as to whether the role and influence of rice in residences? What is the role and influence of rice entity towards the spatial-place pattern of dwellings Ciptagelar society? Spatial-place pattern described by the routine activities of society in general. Data were collected through field research with technique documentation such as general vernacular architecture, extensive recording, intensive recording, as well as documentary investigation. The results showed that there is single space in the dwelling unit residences which is always there, becoming the core, and the influential on the formation of the spatial-place patterns and occupant activity, named: pangdaringan. 

| soes

 

Tautan lanjutan:

http://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2016/04/06/kuliah-ciptagelar-365951

Dimensi Antropologis dalam Arsitektur

9 November 2012 4 comments

Dimensi antropologis penelitian arsitektur saat ini mendeskripsikan arsitektur sebagai sebuah keberlanjutan yang konstruktif, sebagai sebuah jenis baru dari obyek budaya yang berjalan seiring (paralel) dengan seluruh evolusi kebudayaan manusia. Atas dasar ini, dimensi antropologis melebar menjadi dua hal yakni teori arsitektur dan habitat. Habitat diturunkan dari teori-makro telah memberikan (1) wawasan baru pada makna arsitektur, (2) juga pada budaya berhuni (culture of dwelling).

Di samping dua hal di atas antropologi arsitektur juga menawarkan penggabungan banyak teori-mikro yang konvensional dari kemanusiaan dengan kerangka-kerja yang lebih luas pada evolusi-konstruktif dan lingkungan organisasi ruang: manusia akan membangun dirinya sendiri dan gagasannnya di dunia. Oleh karena itu, antropologi arsitektur menarik bagi semua disiplin ilmu penelitian budaya.

Etnologi dalam bidang arsitektur berkembang selama masa krisis arsitektur modern di akhir tahun 1960-an. Di samping itu juga dipicu oleh teorinya Amos Rapoport  ‘Built Form and Culture’ (1969) yang membuka kemungkinan lahirnya teori baru. Rapoport membuka cakrawala pengetahuan ke dalam etnologi arsitektur.

Ketika arsitektur mulai beringsut mengakrabi ranah etnologi maka seolah menemui jalan buntu. Etnologi dalam arsitektur pada akhirnya menemukan jalan buntu terkait dengan metodologi karena akumulasi pengetahuan yang tidak terkoordinasi dari semua bidang. Masalah utama terletak pada kenyataan bahwa penelitian arsitektur belum mengembangkan metodennya sendiri. Sebagian besar penelitian memimjam konsep dan pendekatan dari disiplin lain, seperti religi, psikologi, sosial-antropologi, strukturalisme, semiotika, dan sebagainya. Dengan demikian tidak hanya memindahkan kesulitan teoritis yang muncul dari induk-induk disiplin ilmu tadi, tetapi juga menciptakan masalah baru dengan mengadaptasi pendekatan dari satu disiplin ke disiplin lainnya.

Dalam konteks ini satu bidang penelitian lainnnya mendapatkan konsentrasi dalam arsitektur sendiri, yaitu antropologi. Pada lingkar disiplin antropologi ini dijumpai adannya 4 jenis skema (Egenter, 1992), yaitu: ….

[ Tulisan lengkap Dimensi Antropologis dalam Arsitektur dapat diunduh pada box, my shared files kolom di sebelah kanan

By | soes

Categories: Theory Tags: ,

Polemik Desain & Riset Arsitektur

5 November 2012 Leave a comment

Gerakan ‘Saintifikasi’ Desain::

Persoalan merancang dalam arsitektur kembali dipertanyakan Metodologi yang dirumuskan sebagai perangkat atau tata cara yang terstruktur di dalam melakukan proses perancangan dianggap lebih banyak menjadi hambatan dibanding alat untuk mempermudah proses. Metode perancangan diposisikan berbasis pada kriteria ilmiah seperti logika, rasionalitas, abstraksi, dan prinsip-prinsip yang kokoh. Metodologi yang seperti ini menuntut prosedur yang teratur, rapih, dan ketat. Pendekatan ini memang terbukti efektif terhadap perancangan yang bersifat industrial seperti kendaraan dan elektronik, namun bagaimana dengan desain perancangan arsitektur (lingkungan binaan)? Segera muncul ketidakpuasan atas pendekatan ini tidak lama setelah “gerakan saintifikasi” perancangan dipublikasikan. (Tardiyana, 2003).

Pada kenyataannya, perancangan sebagai suatu poroses memang sering tidak mengikuti metodologi tertentu dan sering dipandang eksoterik, dan sulit dijelaskan secara terstruktur: terutama pada dunia praktek. Permasalahannya apakah proses perancangan (dalam dunia praktek) tidak bisa dibuat lebih ilmiah, seperti yang pernah di yakini oleh J. Christopher Jines, Bruce Archer, Christopher Alexander. Menurut keyakinan mereka perancangan hanya bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Pengalaman dari dunia praktek menunjukkan bahwa para perancang tidak bekerja seperti apa yang dirumuskan metodologi. Tata cara yang telah ditetapkan (oleh: alexander, 1971; Broadbent, 1973; Lawson, 1980) tidak berjalan dengan baik.

Kondisi di atas oleh Henrik Gedenryd didindikasikan akibat terjadinya ketimpangan antara pandangan teoritik tentang bagaimana seharusnya sesuatu terjadi dengan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam kenyataan. Gedenryd menyebutnya sebagai” a gap between ideal and actual”. Selanjutnya dia mengusulkan bahwa diperlukannya penjelasan lebih lanjut tentang kondisi dinamis dan bersifat autentik yang terjadi diantara gap tadi. Oleh Donald Schon (1984) diperkenalkan istilah “reflective practice” dalam menjawab persoalan ini. Menurut Schon persoalan arsitektur tidak selalu terumuskan sebelum perancangan dan tidak selalu bersifat pasti. Dia menyarankan agar perancang tidak terlalu bersifat sebagai ahli, tetapi sebagai seseorang yang selalu siap mendengarkan fihak lain dan selalu berefleksi terhadap dinamika yang terjadi dalam proses.

Walaupun pendekatan ilmiah dalam metodologi perancangan mendapat kritik yang bertubi-tubi pendekatan ini masih tetap bertahan dan berevolusi di dalam berbagai bentuk. Misalnya Delft University of Technology yang secara konsisten mengembangkan konsep research by design. Konsep yang menekankan pada ekstrapolasi berbagai data yang bisa menghasilkan berbagai gambaran lingkungan fisik yang open-ended dan tanpa preseden.

Perancangan arsitektur sebagai sebuah kegiatan pada prakteknya lebih banyak merupakan kegiatan yang mengandalkan pengetahuan yang bersifat tacit. Bahwa pegalaman craftman, desainer grafik, desainer produk merupakan salah satu pengetahuan yang bersifat tacit, suatu aktivitas profesional yang tanpa bisa melepaskan presepsi, penilaian, dan keahlian dari perancangnya (Seago & Dunne, 1996). Suatu pengetahuan yang bersifat gelembung yang terus-menerus membentuk menjadi pengetahuan terakumulasi yang serta merta hadir bersamaan bila diperlukan. Desain oleh para pelakunya lebih dipandang seperti kemampuan berenang atau bersepeda. Suatu keterampilan yang dicapai melalui kegiatan langsung berupa learning-by-doing. Pada ketrampilan ini berbagai teori paling canggih sekalipun tidak akan membuat seseorang bisa melakukannya kecuali harus melakukannya langsung yaitu mencebur ke kolam renang atau naik ke sadel sepeda!

Polemik Desain dan Riset::

Beberapa persoalan di atas menuntun kepada suatu pertanyaan tentang bagaimanakah sebenarnya kedudukan desain ini, apakah sain(tifik) atau tidak? Bagaimanakah kedudukkan antara riset dan desain? ….

[ Tulisan lengkap Polemik Desain dan Riset Arsitektur dapat diunduh pada box, my shared files kolom di sebelah kanan]

By | soes

Melihat Arsitektur Barat dan Timur

4 October 2011 8 comments

[judul ini sendiri masih menunjukkan dominasi Barat atas Timur (?)]

Sain modern merupakan salah satu di antara pandangan dunia lainnya. Sejak kehadirannya, metode sains modern telah menunjukkan dominasinya pada berbagai bidang penelitian di dunia. Mekanika Newton (Newtonian) dijadikan sebagai model dasar bagi ilmu-ilmu lainnya sehingga semua kebenaran harus lolos uji rasionalitas dan objektivitas. Untuk itu digunakan metoda ilmiah Newtonian yang menggabungkan metode deduksi logis (filsafat rasionalisme: Rene Descartes) dan eksperimen kuantitatif (filsafat empirisisme Francis Bacon). Sehingga dicapai dua metode kuat dalam sains modern yaitu rasionalitas dan objektivitas. Pandangan seperti ini disebut sebagai pandangan saintisme[1].

Saintisme bisa juga dianggap sebagai filsafat tersembunyi. Tiga komponen dalam saintisme adalah: ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi saintisme adalah materialisme, mekanisme, dan atomisme. Epistimologi saintisme adalah rasionalisme dan empirisisme. Aksiologi saintisme adalah netralisme, humanisne, dan universalisme. Ketiga komponen tersebut sangat dipengaruhi oleh pandangan mekanika Newton sebagai model sain-sain lainnya. Sehingga saintisme dikenal dengan paradigma Newtonian[2].

Dominasi pandangan Newtonian turut juga mempengaruhi penelitian dalam bidang arsitektur. Bagaimanakah dengan artefak budaya [arsitektur] China, Asia-Pasifik, Nusantara dan kawasan Timur lainnya? Apakah apakah seluruh artefak budaya ini harus juga dilihat secara general melalui kacamata Newtonian? Selama ini arsitektur [hampir] selalu didekati dari “pendekatan saintifik”. Namun Robinson (1990) meyakini bahwa kedua pendekatan sains (Barat) dan mitos (Timur) sama-sama valid dalam penelitian arsitektur.

Realitas dalam pandangan Timur tidak sekadar ditangkap berdasarkan alat indrawi-jasadiah semata, melainkan juga dengan rasa: ada semacam resonansi yang terasakan. Realitas dipandang sebagai struktur yang bertingkat (hirarkis). Sebagaimana Sandrisser (1998) meyakini bahwa beberapa makna ruang di Timur tidak dijumpai definisinya di Barat. Dalam pengertian Timur, makna ruang merupakan bagian dari bahasa yang tak terucap di masa lalu, bisa dialami tetapi tidak untuk diartikulasi sebagaimana definisi Barat. Sedangkan, dalam kacamata barat (diwakili dengan Erosentris) realitas ditangkap dengan menggunakan indera jasadiah, logika, dan fenomena empirik. Atau jika pandangan itu setara dengan sains modern, maka ruang dipandang sebagai struktur realitas dengan konsep realitas datar. Ruang tersusun atas materinya saja (materialisme saintifik).

Keduanya, baik arsitektur Barat dan Timur memang menjadi dua kutub yang berbeda. Setidaknnya terdapat delapan prinsip yang membedakan antara arsitektur Barat dan Timur (Lancaster, 1956). Pertama, arsitektur Barat lebih solid sedangkan Timur lebih ringan. Kedua, arsitektur Barat lebih dilihat dari sudut pandang bentuk, ekspresi, dan eksternalitas, sedangkan Timur lebih melihat arsitektur dari volume (kedalaman), dan internalitas. Ketiga, ciri karya Barat terdiri dari bagian-bagian individu, sedangkan Timur terdiri dari unit-unit terpadu. Keempat, kecenderungan Barat adalah untuk memperindah, sedangkan Timur untuk menyederhanakan. Kelima, Barat lebih menekankan pada desain vertikalitas yang merepresentasikan individualistik, berbeda (lain), dan berdiri tegap (pongah), sedangkan Timur lebih menekankan pada desaian horisontalitas yang merepresentasikan ketenangan dan menyesuaiakan diri dengan alam semesta; yang melihat refleksi diri dari keseluruhan dan keseluruhan dalam dirinya. Keenam, perancang dan karya Barat mengambil jarak dengan apa yang dilakukan, sedangkan Timur membangun hubungan intim dengan apa yang dibuatnya. Ketujuh¸ Barat lebih peduli pada efek pengolahan bahan dan menyembunyikan ekspresi bahan, sedangkan Timur lebih memperhatikan hak material; menjaga bahan apa adanya dalam bentuk kewajaran. Kedelapan, karya Barat menarik diri dari lingkungan alam; terpisah dengan alam, sedangkan Timur lebih mengidentifikasikan lingkungan alam; menyesuaikan alam. Dari delapan prinsip ini menunjukkan bahwa karya arsitektur Barat dan Timur memang berbeda. Pada intinya karya arsitektur Timur lebih menyelaraskan diri kepada alam dan membinanya menjadi hubungan timbal balik yang utuh serta mengedepankan kebersamaan. Disamping itu, ekspresi bentuk fisik tidaklah dominan. Tampaknya proses lebih penting daripada produk. [Tabel Perbedaan Arsitektur Barat dan Timur]

Persoalananya adalah bagaimana cara memahami realitas ketimuran tersebut? Metodologi seperti apa yang bisa digunakan dalam menginterpretasi realitas ruang kesetempatan dan kesemestaan (kosmik) secara ketimuran? Karena begitu pembahasan mulai masuk ranah metodologis maka kerangka logis akan membingkai. Dan hal ini menjadi persoalan epistimologi saintisme yang bersifat rasional-empiris. Pembahasan kosmologi sendiri akan banyak dihadang metodologi. Wessing mengunakan teori strukturalis Levi-Strauss: dualisme konsentris (oposisi biner) dalam melihat peran organisasi Baduy Dalam dan Baduy Luar. Di samping itu, teori ini juga untuk memahami ritual Arca Domas bagi nilai kesetempatan Baduy terhadap kesemestaan masyarakat Sunda di luar Baduy dalam memelihara kelestarian kosmik.

Capra (2009) mengusulkan dua cara memandang realitas, secara konsepsi mekanistik dan organik. Konsepsi mekanistik didasarkan pada mekanisme fisika klasik. Cara pandang mekanistis bermanfaat untuk deskripsi fenomena fisis yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Cara pandang ini terbukti sebagai landasan teknologi. Sedangkan cara pandang organik menganggap seluruh fenomena di alam semesta sebagai bagian integral dari keseluruhan keselarasan yang tidak terpisahkan. Dalam kehidupan sehari-hari kedua pandangan ini absah dan berguna. Mekanistik untuk sain dan teknologi, organik untuk kehidupan spiritual yang terpenuhi dan seimbang. Cara pandang rasional memahami cabangnya tetapi tidak akarnnya, sedangkan cara pandang intuitif menguasai akarnya tetapi tidak cabangnya. Keduanya manjadi dua tegangan yang saling melengkapi pengaruh timbal balik yang dinamis, tetapi tidak bersintesis.

Ciri penting dalam pandangan Timur menurut Capra (2009) adalah kesadaran akan kesatuan dan hubungan timbal balik dari segala sesuatu, benda dan peristiwa, pengalaman atas seluruh fenomena di dunia sebagai manifestasi dari kesatuan dasar. Alam semesta sebagai jaring kesalinghubungan relasi-relasi fisik dan mental yang bagian-bagiannya didefinisikan hanya melalui hubungan dengan keseluruhan. Relasi-relasi dalam keseluruhan ini sungguh sangat rumit dan tiada terputus. Untuk memahami “keseluruhan” alam semesta bisa disusun atas rangkaian cerita-cerita parsial yang menyebar. Hal ini merupakan wujud pengakuan atas kemajemukan realitas (Supelli, 2006).

Namun sampai dengan saat ini, cara melihat realitas arsitektur Timur dari paradigma Timur masih menempuh jalan terjal [?]

| soes.

 


[1] Prawacana penerbit dari Fritjof Capra, The Tao of Physic, 2009. h. liii-liv.

[2] Selanjutnya mekanika Newton mengalami dua revolusi besar dengan lahirnya teori relativitas dan teori kuantum.

Aspek Gender pada Arsitektur Lumbung

29 September 2011 4 comments

Salah satu dasar terkuat kehidupan masyarakat Nusantara adalah agraris. Kehidupan komunitas masyarakat sangat terkait dengan konteks pertanian. Dalam pembudidayaan padi banyak peristiwa, nama rupa, bentuk, maupun legenda yang saling mengiringi. Salah satu diantaranya adalah lumbung sebagai bentuk fasilitas penyimpan padi dan mitos dewi padi. Diantaranya keduanya saling terhubung oleh aspek gender.

Pengantar ::

Nusantara memiliki kekayaan arsitektur vernakular yang beragam. Sebagai bangsa yang memilki budaya agraris, lumbung menjadi salah satu wujud artefak peradabannya. Lumbung berkategori sebagai agriculture vernacular architecture.  Setiap entitas etnis di Nusantara memiliki nama rupa dan bentuk lumbung yang beragam. Setiap etnis memiliki sistem simbol dan informasi yang beragam pula, sehingga secara kultural menjadi semakin kompleks. salah satu simbol yang dimiliki berbagai komunitas etnis di Nusantara adalah mitos, legenda, foklore tentang padi yang terkait dengan agrikultur. Dari beberapa mitos padi tersebut terkait dengan personifikasi perempuan, baik dalam sosok maupun peran sosialnya. Personifikasi ini pada gilirannya akan berpengaruh juga pada aktivitas dan bentuk fasilitas yang menampungnya. Dalam hal ini adalah lumbung.

Keterkaitan antara segresi gender dalam mitos dan lumbung sangat menarik dan membuka ruang penelitian dalam bidang arsitektur vernakular agrikultur. Dimensi gender dapat dijadikan sebagai salah satu topik penelitian dalam mengangkat dan mengungkap konseptualisasi arsitektur vernakular agrikultur. Pertanyaannya adalah, apakah ruang lingkup dan bagaimanakah bentuk kategori analisis gender yang digunakan dalam mengkonseptualisasi arsitektur vernakular agrikultur?

Bentuk Kategori Analisis Gender dalam Arsitektur Vernakular [Lumbung]

Menarik untuk dicermati keterkaitan antara mitos (foklore) Dewi Padi yang berafiliasi dengan perempuan dengan tempat atau fasilitas penyimpanannya (lumbung) yang dalam ritualnya juga mempertimbangkan peran perempuan. Bagaimana ruang-ruang dimaknai? Bagaimana ruang-ruang terbentuk? Bagaimana bentuk bangunan terwujud? Kondisi seperti ini sangat mungkin mengangkat aspek gender sebagai tema penelitian dalam bidang arsitektur vernakular.

Sementara ini beberapa penelitian bidang arsitektur vernakular lebih banyak masuk pada ranah arsitektur vernakular domestik (lihat penelitian Devakula, 1999; Asquith, 2006) . Penelitian arsitektur dalam bidang arsitektur vernakular agrikultur masih kurang. Ada dan banyaknya segresi dan peran gender dalam lumbung sebagai arsitektur vernakular agrikultur sebenarnya memberi potensi penelitian lebih lanjut. Ranah penelitian tidak saja masuk pada artefak dan spasialnya melainkan juga sistem setting lingkungan agrikulturnya.

Fakta bahwa penelitian bidang arsitektur vernakular masih kurang didukung oleh kenyataan bahwa penelitian yang langsung berfokus pada hubungan lumbung dan gender lebih banyak didominasi oleh bidang antropologi. Sato (1991) dalam penelitiannya bertajuk Dwell in the Granary: The Origin of the Pile-Dwellings in the Pacific memiliki subtopik segresi gender dalam salah satu penelitiannya. Sedangkan Fiedermutz-Laun (2005) melihat antropomorfik, yaitu bentuk simbol kesuburan pada lumbung dan perlengkapannya di Kasena Afrika Barat.

Penelitian dan pembahasan tentang gender dapat membuka pemahaman sejarah desain dan pengalaman lingkungan vernakular (Kwolek-Folland, 1995). Pendekatan gender dalam penelitian bisa dijadikan sebagai kategori analisis. Jika gender diangkat menjadi kategori analisis dalam memahami arsitektur vernakular, maka pendekatan gender ini dapat digunakan untuk mengkonseptualisasikan masalah penelitian. Sekarang ini banyak disepakati bahwa gender merupakan bentuk eksperensial dan kategori analisis sebagaimana pendekatan kelas atau ras.

Sebelum masuk area penelitian gender dan tatapikir yang berguna dalam mengkonseptualisasikan arsitektur vernakular, perlu didudukan pemahaman gender. Gender adalah seperangkat abstraksi yang berakar dalam bidang biologi dan dinyatakan dalam bentuk sosial, budaya, dan sejarah. Tidak seperti perbedaan jenis kelamin secara biologis, gender tercipta secara sosial yang senantiasa berubah sesuai dengan etnis, budaya, agama, perbedaan ekonomi, kebangsaan, ras, dan waktu. Gender adalah sistem gagasan yang saling terkait antara peran sosial laki-laki dan perempuan, swa-definisi, dan pengalaman budaya yang didasarkan pada proses sejarah[1].

Bila penelitian arsitektur vernakular menggunakan aspek gender sebagai kategori analisis, maka setidaknya ada empat wilayah lingkungan binaan yang bisa distudi. Empat area ini berguna dalam merekonseptualisasi arsitektur vernakular. Lumbung sebagai arsitektur vernakular agrikultur dapat ditelisik berdasarkan empat area dibawah ini[2].

  1. Penelitian yang mempelajari hubungan status dan posisi perempuan terkait dengan ruang-ruang yang biasa digunakannya.
  2. Penelitian yang memperhatikan gender pada tempat-tempat atau ruang publik di mana laki-laki dan perempuan memilki pendekatan dan tafsir dengan cara yang berbeda.
  3. Penelitian yang memperhatikan definisi batas-batas ruang yang dibangun berdasarkan sifat idiologis, simbolis, filosofis, spirit-supranatural atas peran laki-laki dan perempuan.
  4. Penelitian yang memperhatikan proses transmisi menghuni dan bentuk hunian terkait dengan cara budaya dan sejarah mengubah proses tersebut.

Selanjutnya, ketika penelitian masuk pada pengumpulan data primer, ada empat cara berpikir yang sangat berguna bagi penelitian dengan dimensi gender pada lumbung sebagai arsitektur vernakular agrikultur. Empat tatapikir di bawah ini[3] dapat dijadikan sebagai rujukan dan senarai periksa dalam menjelajahi aspek gender sebagai topik penenelitian.

  1. Gender sebagai kategori struktural, meliputi pengertian dasar kemanusiaan, kewanitaan, dan/atau pembagian gender lainnya dalam sistem sosial, ekonomi, dan ideologis.
  2. Gender sebagai kategori kronologikal, sistem gender adalah subjek kesejarahan yang senantiasa berubah secara konstan dan mungkin bisa saja gender merangsang dirinya untuk selalu berubah.
  3. Gender sebagai kategori fragmentasi, setiap gender yang dominan akan melibatkan orang yang berbeda dalam cara yang berbeda dan akan membuat beberapa lapisan pengalaman.
  4. Gender sebagai kategori pengalaman, baik individu atau kelompok mengalami gender dalam berbagai cara yang berbeda dan dalam beragam bentuk dan aktivitas di berbagai kapasitas. Gender secara simultan adalah privat, intim, berkategori personal dan publik, komunal, swa -kspresi sosial. Gender dapat menghubungkan individu kepada masyarakat dalam bentuk personal.

Empat tatapikir ini bisa dikolaborasi dengan metode field research di mana peneliti lapangan adalah orang pragmatis metodologis. Peneliti melihat setiap metode penelitian sebagai suatu sistem strategi dan operasi yang dirancang-setiap saat untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tertentu tentang peristiwa yang menarik baginya. (Schatzman dan Strauss, 1973, hal 7 dalam Burgess, 1984 hal. 5)

| soes


[1] Disarikan dari Suzanne Kesseler and Wendy McKenna, Gender An Ethnomethodological Approach (New York: John Wiley, 1978) dan Sherry B. Ortner and Harriet Whitehead, Sexual Meanings: The Cultural Construction of Gender and Sexuality (New York: Cambridge University Press, 1981) oleh Kwolek-Folland (1995).

[2] Diasimilasi dari Kwolek-Folland, 1995.

[3] Diadaptasi dari Kwolek-Folland, 1995.