Home > Vernacular Architecture > Melihat Arsitektur Barat dan Timur

Melihat Arsitektur Barat dan Timur

[judul ini sendiri masih menunjukkan dominasi Barat atas Timur (?)]

Sain modern merupakan salah satu di antara pandangan dunia lainnya. Sejak kehadirannya, metode sains modern telah menunjukkan dominasinya pada berbagai bidang penelitian di dunia. Mekanika Newton (Newtonian) dijadikan sebagai model dasar bagi ilmu-ilmu lainnya sehingga semua kebenaran harus lolos uji rasionalitas dan objektivitas. Untuk itu digunakan metoda ilmiah Newtonian yang menggabungkan metode deduksi logis (filsafat rasionalisme: Rene Descartes) dan eksperimen kuantitatif (filsafat empirisisme Francis Bacon). Sehingga dicapai dua metode kuat dalam sains modern yaitu rasionalitas dan objektivitas. Pandangan seperti ini disebut sebagai pandangan saintisme[1].

Saintisme bisa juga dianggap sebagai filsafat tersembunyi. Tiga komponen dalam saintisme adalah: ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi saintisme adalah materialisme, mekanisme, dan atomisme. Epistimologi saintisme adalah rasionalisme dan empirisisme. Aksiologi saintisme adalah netralisme, humanisne, dan universalisme. Ketiga komponen tersebut sangat dipengaruhi oleh pandangan mekanika Newton sebagai model sain-sain lainnya. Sehingga saintisme dikenal dengan paradigma Newtonian[2].

Dominasi pandangan Newtonian turut juga mempengaruhi penelitian dalam bidang arsitektur. Bagaimanakah dengan artefak budaya [arsitektur] China, Asia-Pasifik, Nusantara dan kawasan Timur lainnya? Apakah apakah seluruh artefak budaya ini harus juga dilihat secara general melalui kacamata Newtonian? Selama ini arsitektur [hampir] selalu didekati dari “pendekatan saintifik”. Namun Robinson (1990) meyakini bahwa kedua pendekatan sains (Barat) dan mitos (Timur) sama-sama valid dalam penelitian arsitektur.

Realitas dalam pandangan Timur tidak sekadar ditangkap berdasarkan alat indrawi-jasadiah semata, melainkan juga dengan rasa: ada semacam resonansi yang terasakan. Realitas dipandang sebagai struktur yang bertingkat (hirarkis). Sebagaimana Sandrisser (1998) meyakini bahwa beberapa makna ruang di Timur tidak dijumpai definisinya di Barat. Dalam pengertian Timur, makna ruang merupakan bagian dari bahasa yang tak terucap di masa lalu, bisa dialami tetapi tidak untuk diartikulasi sebagaimana definisi Barat. Sedangkan, dalam kacamata barat (diwakili dengan Erosentris) realitas ditangkap dengan menggunakan indera jasadiah, logika, dan fenomena empirik. Atau jika pandangan itu setara dengan sains modern, maka ruang dipandang sebagai struktur realitas dengan konsep realitas datar. Ruang tersusun atas materinya saja (materialisme saintifik).

Keduanya, baik arsitektur Barat dan Timur memang menjadi dua kutub yang berbeda. Setidaknnya terdapat delapan prinsip yang membedakan antara arsitektur Barat dan Timur (Lancaster, 1956). Pertama, arsitektur Barat lebih solid sedangkan Timur lebih ringan. Kedua, arsitektur Barat lebih dilihat dari sudut pandang bentuk, ekspresi, dan eksternalitas, sedangkan Timur lebih melihat arsitektur dari volume (kedalaman), dan internalitas. Ketiga, ciri karya Barat terdiri dari bagian-bagian individu, sedangkan Timur terdiri dari unit-unit terpadu. Keempat, kecenderungan Barat adalah untuk memperindah, sedangkan Timur untuk menyederhanakan. Kelima, Barat lebih menekankan pada desain vertikalitas yang merepresentasikan individualistik, berbeda (lain), dan berdiri tegap (pongah), sedangkan Timur lebih menekankan pada desaian horisontalitas yang merepresentasikan ketenangan dan menyesuaiakan diri dengan alam semesta; yang melihat refleksi diri dari keseluruhan dan keseluruhan dalam dirinya. Keenam, perancang dan karya Barat mengambil jarak dengan apa yang dilakukan, sedangkan Timur membangun hubungan intim dengan apa yang dibuatnya. Ketujuh¸ Barat lebih peduli pada efek pengolahan bahan dan menyembunyikan ekspresi bahan, sedangkan Timur lebih memperhatikan hak material; menjaga bahan apa adanya dalam bentuk kewajaran. Kedelapan, karya Barat menarik diri dari lingkungan alam; terpisah dengan alam, sedangkan Timur lebih mengidentifikasikan lingkungan alam; menyesuaikan alam. Dari delapan prinsip ini menunjukkan bahwa karya arsitektur Barat dan Timur memang berbeda. Pada intinya karya arsitektur Timur lebih menyelaraskan diri kepada alam dan membinanya menjadi hubungan timbal balik yang utuh serta mengedepankan kebersamaan. Disamping itu, ekspresi bentuk fisik tidaklah dominan. Tampaknya proses lebih penting daripada produk. [Tabel Perbedaan Arsitektur Barat dan Timur dapat di lihat pada box, my shared files]

Persoalananya adalah bagaimana cara memahami realitas ketimuran tersebut? Metodologi seperti apa yang bisa digunakan dalam menginterpretasi realitas ruang kesetempatan dan kesemestaan (kosmik) secara ketimuran? Karena begitu pembahasan mulai masuk ranah metodologis maka kerangka logis akan membingkai. Dan hal ini menjadi persoalan epistimologi saintisme yang bersifat rasional-empiris. Pembahasan kosmologi sendiri akan banyak dihadang metodologi. Wessing mengunakan teori strukturalis Levi-Strauss: dualisme konsentris (oposisi biner) dalam melihat peran organisasi Baduy Dalam dan Baduy Luar. Di samping itu, teori ini juga untuk memahami ritual Arca Domas bagi nilai kesetempatan Baduy terhadap kesemestaan masyarakat Sunda di luar Baduy dalam memelihara kelestarian kosmik.

Capra (2009) mengusulkan dua cara memandang realitas, secara konsepsi mekanistik dan organik. Konsepsi mekanistik didasarkan pada mekanisme fisika klasik. Cara pandang mekanistis bermanfaat untuk deskripsi fenomena fisis yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Cara pandang ini terbukti sebagai landasan teknologi. Sedangkan cara pandang organik menganggap seluruh fenomena di alam semesta sebagai bagian integral dari keseluruhan keselarasan yang tidak terpisahkan. Dalam kehidupan sehari-hari kedua pandangan ini absah dan berguna. Mekanistik untuk sain dan teknologi, organik untuk kehidupan spiritual yang terpenuhi dan seimbang. Cara pandang rasional memahami cabangnya tetapi tidak akarnnya, sedangkan cara pandang intuitif menguasai akarnya tetapi tidak cabangnya. Keduanya manjadi dua tegangan yang saling melengkapi pengaruh timbal balik yang dinamis, tetapi tidak bersintesis.

Ciri penting dalam pandangan Timur menurut Capra (2009) adalah kesadaran akan kesatuan dan hubungan timbal balik dari segala sesuatu, benda dan peristiwa, pengalaman atas seluruh fenomena di dunia sebagai manifestasi dari kesatuan dasar. Alam semesta sebagai jaring kesalinghubungan relasi-relasi fisik dan mental yang bagian-bagiannya didefinisikan hanya melalui hubungan dengan keseluruhan. Relasi-relasi dalam keseluruhan ini sungguh sangat rumit dan tiada terputus. Untuk memahami “keseluruhan” alam semesta bisa disusun atas rangkaian cerita-cerita parsial yang menyebar. Hal ini merupakan wujud pengakuan atas kemajemukan realitas (Supelli, 2006).

Namun sampai dengan saat ini, cara melihat realitas arsitektur Timur dari paradigma Timur masih menempuh jalan terjal [?]

| soes.


[1] Prawacana penerbit dari Fritjof Capra, The Tao of Physic, 2009. h. liii-liv.

[2] Selanjutnya mekanika Newton mengalami dua revolusi besar dengan lahirnya teori relativitas dan teori kuantum.

About these ads
  1. arief
    8 October 2011 at 10:03 pm

    saya orang awam di bidang arsitektur ini. Bagaimana dg pengaruh ilmuwan sebelum sains modern muncul. Sebelumnya, pada abad pertengahan : terdapat permulaan tidak hanya dari mitos semata namun melalui eksperimen saintifik dan intuitif misalnya Avezena (Ibnu Sina) membangun rumah sakit pertama dengan menyebar daging di sejumlah lokasi (intuisi menyebabkan pemilihan daging), yang menghasilkan kesimpulan saintifik rasional yaitu lokasi dimana terakhir daging jadi busuk dipilih sebagai tempat membangun rumah sakit, yang bermakna : bahwa tempat itulah paling steril (higienis dari pencemaran mikroba), pendekatan induksi sudah dimulai saat itu sebelum renaisance. Dari hal tersebut, apakah bisa dilihat bahwa pemisahan Barat dan Timur justru semakin dipertajam pada zaman renaisance yang akhirnya merembet ke segala arah dan cara pandang termasuk mungkin arts dalam arsitektur itu sendiri.
    Sehingga jika paradigma timur hanya dipandang sebagai intuisi, dan paradigma barat sebagai rasionalitas, bagaimana dengan cara pandang ilmuwan abad pertengahan? Apakah cara pandang abad pertengahan tidak relevan lagi setelah renaisance? alih-alih sains sekarang yang berjalan adalah sains normal – namun bisa jadi akan terjadi revolusi sains berikutnya. We don’t know till it will happen.

    • 9 October 2011 at 9:41 am

      Terima kasih Arief atas komentarnya dan terima kasih juga telah menjadi reader untuk proposalku

      Sedikit hal mungkin bisa dibagi di sini.
      Dalam kerangka diakronik, Abad Pertengahan dicatat pada rentang abad IV-XIV Masehi. Pada abad VI dikenal sebagai abad yang ‘aneh’ karena secara simultan disemua belahan bumi mengalami loncatan dari mitos ke logos. Di India ada Hindu –> Sidharta; di China ada Taoisme –> lebih pragmatis ke Confusius. Sedangkan perkembangan di Yunani dianggap paling sistematis.

      Saya sedikit loncat, pada abad IX-XI (Pada abad ke-11 ada perang Salib), Bagdad mencapai golden age. Banyak dari para filsuf Islam menterjemahkan dan memberikan komentar kritis dari karya para filsuf Yunani terutama Aristoteles. Para filsuf Islam mulai berani keluar (berpikir lebih jauh dari Agama). Mereka antara lain adalah Ibn Sienna, Ibn Rusyd, Ibn Arabi. Pemikiran-pemikiran mereka masuk Eropa melalu Cordoba. Cordoba menjadi pintu gerbang ke Eropa.

      Masuknya pemikiran Filsuf Islam meledakkan Renaissance (Aband XV-XVI) dan menandai kebangkitan Eropa. Sejak Renaissance di Eropa sains menjadi pondasi utama peradaban. Keagamaan mulai terpinggirkan. Renaissance adalah kebangkitan pemikiran Yunani. Kenapa Renaissance meledaknya di Eropa, tidak di China atau di Bagdad ? Mungkin ada yang mau mendiskusikan hal ini?

      Namun demikian, pesan tulisan saya di blog adalah tentang bagaimana menggugah keberadaaan pengetahuan lokal kita tentang lingkungan binaan yang sebenarnya kaya-raya yang (mungkin) masih belum bangun atau bahkan koma…[?] dan memiliki kesetaraan paradigma dengan paradigma lainnya di dunia ini…[put in big question]

  2. arief
    9 October 2011 at 5:31 pm

    NARASI.. jawaban saya adalah narasi.. narasi-lah yang membuat terjadi dikotomi paradigma.. Siapa yang mampu membuat narasi, mempunyai passion untuk narasi itu-dialah yang membuat narasi menjadi besar.
    Justru ilmuwan pertengahan-lah yang punya passion dan mampu membuat narasi, sehingga narasi itulah yang ‘dicontek’ sekaligus di-blue-print-kan sehingga menjadi renaisans. Passion ilmuwan pertengahan justru didasari karena kekuatan maknawi yang dimilikinya sehingga menjadi golden age. Jam pasir mampu membuktikan hal itu, juga irigasi persawahan serta strategis masyarakat madani, sehingga menurut saya itu bukan keluar dari agama (karena agama tidak pernah jadi dikotomi kehidupan).
    Karena NARASI dan juga passion-lah yang membuat Eropa memblueprintkan dan mendaurulang semua cipta ilmuwan pertengahan sehingga seolah-olah bibit adalah dari Renaisan.. tapi SEJARAH yang mampu dibuat dengan narasi itu pulalah yang telah merontokkan teori Darwin, oleh sebab itu.. kebenaran yang dibuat oleh Renaisans dan sains modern adalah kebenaran relatif.. kebenaran dogmatis tidak akan pernah bisa dibuat dan diciptakan.
    mengapa tidak di China ataupun jepang dengan restorasi Meiji? karena mereka saat itu tidak mampu membuat NARASI dan passion buat keluar sehingga narasi-pun tidak berpihak sama mereka
    apalagi Baghdad-dengan terjungkalnya mereka kembali ke zaman kegelapan- jangan diharapkan narasi mau mampir ke mereka
    Bagaimana dengan pengetahuan lokal? apakah koma? mungkin ya-karena yang lokal belum bahkan tidak punya dan tidak tahu apa itu narasi.. bagaimana bisa bangkit dari koma? dilirik sama narasi-pun tidak!
    namun sekali lagi.. narasi yang berjalan sekarang masih sains normal… sejarah membuktikan sains normal akan selalu berganti dengan revolusi sains baik lambat maupun cepat.
    Ini pemikiran pribadi, bisa saja tidak sependapat

  3. silvia
    15 February 2012 at 1:25 pm

    Soes,
    Berulang kali aku membaca tulisanmu ini. Arsitektur Barat dan Timur tentu wajar memiliki perbedaan mendasar. Masing-masing seharusnya memang diakui pendekatannya. Sebagai orang yang berpraktek mendisain bangunan rumah tinggal di sini, aku pribadi merasakan tarik menarik antara Barat dan Timur. Mungkin ini menjadi keluar dari konteks bahasanmu.
    Perjalanan arsitektur timur untuk dilihat dari timur memang masih terjal, tetapi rasa-rasanya melihat kegelisahan ini dirasakan banyak orang, semoga makin banyak dari kita menuliskan tentnag hal ini.
    Di ruang publik terasa juga perbedaan memandang ruang antara barat dan timur.
    Ini sekadar celotehan singkat dariku.

  4. Nicky
    21 May 2014 at 6:30 pm

    Soes, itu Lancaster bukunya apa ya? Trims

    • 29 September 2014 at 7:14 pm

      Hi, Nicky. Ini sumber jurnalnya: Lancaster, Clay. (1956): Metaphysical Beliefs and Architectural Principles. The Journal of Aesthetics and Art Criticism, Vol. 14. No. 3 (Mar., 1956), pp. 287-303. Semoga membantu.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: